
Kabar Latuharhary - Setiap tahunnya, tanggal 20
Februari diperingati sebagai Hari Keadilan Sosial Sedunia. Mengutip dari link
website https://rri.co.id/denpasar/daerah/1297753/hari-keadilan-sosial-sedunia, tema tahun 2025 berfokus pada “Memberdayakan
Inklusi: Menjembatani Kesenjangan untuk Keadilan Sosial". Hari ini menjadi momen refleksi bagi
kita semua tentang apa arti keadilan sosial di tengah dunia yang terus berubah.
Tahun
ini, tantangannya makin nyata dengan adanya kebijakan efisiensi anggaran yang
diterapkan oleh Pemerintah melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1
Tahun 2025
tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun
Anggaran 2025. Kebijakan ini mendorong seluruh Kementerian/Lembaga untuk
berinovasi dan menyusun strategi yang lebih efektif dalam pengelolaan program
dan kegiatannya.
Di
atas kertas, efisiensi anggaran mungkin terlihat seperti langkah cerdas untuk
mengatur sumber daya, namun bagi lembaga seperti Komnas HAM yang bertugas
menangani isu-isu penting terkait keadilan dan pemenuhan hak asasi manusia,
pemangkasan anggaran bisa menjadi rintangan dan kendala yang cukup berarti.
Bayangkan, ketika agenda penting harus dikurangi karena terbatasnya anggaran, sementara
kasus pelanggaran HAM justru terus bertambah setiap tahunnya.
Efisiensi Anggaran: Antara Harapan dan Kenyataan
Kebijakan
efisiensi anggaran bukanlah hal baru. Tujuannya sederhana: memaksimalkan
penggunaan dana secara efektif. Namun, dalam praktiknya, efisiensi ini justru mempersulit
ruang gerak lembaga HAM untuk menjalankan tugasnya secara optimal. Komnas HAM mengalami
pemangkasan
anggaran hampir sebesar 50% yang berdampak cukup signifikan, baik di Pusat
maupun di Sekretariat Komnas HAM di 6 (enam) Provinsi terhadap dukungan
substansi maupun operasional.
Efisiensi
anggaran yang diterapkan pemerintah tentunya membawa pengaruh yang besar untuk
Komnas HAM. Beberapa program yang telah direncanakan terpaksa dihentikan atau terpaksa
dilaksanakan dengan sangat minimalis. Termasuk anggaran operasional yang sangat
terbatas sehingga menyulitkan pencapaian output. Kendati ini menjadi tantangan,
namun bisa menjadi kesempatan bagi Komnas HAM untuk tetap membuktikan kualitas
kinerjanya.
Dalam situasi anggaran yang terbatas,
Komnas HAM harus tetap responsif dalam menangani isu HAM yang semakin kompleks
dan mendesak. Meskipun upaya penegakan terus dilakukan, pelanggaran HAM tetap
meningkat, sehingga penentuan prioritas penanganan kasus menjadi hal yang
sangat penting. Di sini peran Sekretariat Komnas HAM di berbagai provinsi untuk
melakukan penjangkauan langsung ke wilayah yang membutuhkan perhatian khusus
menjadi sangat penting.
Di
sisi Penegakan HAM, beberapa langkah seperti memanfaatkan teknologi digital,
bekerja sama dengan organisasi masyarakat sipil, hingga memperkuat sinergi
dengan media bisa menjadi alternatif yang efektif untuk mendorong efektivitas
penegakan HAM.
Selain itu, dalam upaya Pemajuan HAM, dibutuhkan beberapa strategi yang
efektif diantaranya dengan mengoptimalkan kemitraan dalam penyebarluasan
wawasan HAM, mengadvokasi hasil rekomendasi kebijakan dari kajian yang telah
disusun oleh Komnas HAM baik melalui audiensi maupun high level dialog.
Dengan strategi yang lebih adaptif, Komnas HAM tetap bisa menjalankan tugas dan mandatnya di tengah keterbatasan anggaran. Fokusnya tidak lagi pada kuantitas penanganan kasus yang ditangani, namun pada kualitas penanganan kasus yang benar-benar memberikan dampak signifikan bagi masyarakat dan memastikan pemenuhan HAM tetap diimplementasikan. Begitu juga dengan Pemajuan HAM yang semakin memperkuat kolaborasi dan kerja sama dengan mitra dalam kajian, penyebarluasan wawasan HAM dan peningkatan kesadaran HAM.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Hari
Keadilan Sosial Sedunia adalah pengingat bagi kita semua bahwa keadilan sosial
bukan sekadar jargon. Ia adalah hak setiap orang. Di tengah tantangan yang ada,
kita sebagai masyarakat juga bisa berperan dengan meningkatkan kesadaran
publik, mendukung kebijakan yang berpihak pada hak asasi, dan menyuarakan
isu-isu yang sering terabaikan.
Keterbatasan
anggaran mungkin mempersempit langkah, tapi semangat untuk menegakkan keadilan
tidak boleh surut. Pada akhirnya, perjuangan kita bukan sekadar angka atau
laporan, melainkan harapan bagi mereka yang suaranya sering kali tidak
terdengar.
Penulis : Liza Yolanda
Editor : Hari Reswanto, Endang Sri Melani
Short link