Latuharhary – Komnas HAM dan para pegiat kebudayaan perlu mencapai kata sepakat untuk
bekerjasama guna meminimalisasi kebudayaan yang berkembang dan tidak sejalan
dengan prinsip-prinsip HAM dalam rangka mengantisipasi terjadinya tindak
pelanggaran HAM, kata Amiruddin Al Rahab, Koordinator Penegakan HAM, pada diskusi media yang
mengangkat tema “HAM dan Kebudayaan :
Mencari Ruang untuk Bertemu”, bertempat di Gedung Komnas HAM
Jakarta, pada
Jumat (26/07/2019).
Amiruddin menilai
bahwa kebudayaan dan HAM layaknya dua sisi mata
uang. Di satu sisi kebudayaan adalah hak asasi manusia, sebagai bagian pengembangan diri dan pribadi manusia seutuhnya dan dijamin
oleh negara. Sementara di sisi lain, melalui kebudayaan, upaya infiltrasi nilai-nilai hak asasi manusia dapat dilakukan secara
efektif.
“Semisal dalam mengajarkan Pancasila, tidak cukup hanya menghapal ke-5
sila saja, tetapi nilai-nilai Pancasila
tersebut harus bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari. Apabila kita mengajarkan dan mengamalkan nilai Pancasila dalam praktik kehidupan sehari-hari, kebudayaan kita sebagai
bangsa akan terus berkembang”, papar Amiruddin
Menurutnya, pengembangan nilai-nilai hak asasi manusia ke depan juga berada pada konteks yang sama. Hak asasi manusia, lanjutnya, harus menjadi
bagian dari budaya bangsa. Pada upaya ini, pegiat-pegiat kebudayaan juga
memegang tanggung jawab yang besar. Jikalau pegiat kebudayaan menghindari
tanggung jawab ini, maka HAM hanya akan menjadi artifisial semata dan
tidak memberikan kontribusi bagi perbaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Amiruddin menegaskan
apabila masyarakat tidak merasa (aware) terhadap persoalan HAM dan hanya
ditumpukan kepada palu hakim di ruang pengadilan, maka perkara pelanggaran HAM dan level
penanganannya akan terus menerus seperti kondisi saat ini.
“Jika kita tidak
mampu membangun kebudayaan yang respect terhadap prinsip HAM dan
menjadikan permasalahan HAM menjadi bagian dari problem sosial atau masalah diri
sendiri, maka hal-hal yang telah diatur
dan disuarakan pada materi undang-undang HAM hanya akan menjadi informasi di atas kertas saja. Padahal salah satu hal yang menentukan majunya kebudayaan adalah
apabila HAM dibangun integral dengan pengembangan kebudayaan”, tegas
Amiruddin.
Lebih lanjut
Amiruddin mengungkapkan banyak hal bisa dilakukan untuk memperbesar ruang temu antara
HAM dan Kebudayaan. Aktivitas-aktivitas kebudayaan yang disisipi oleh nilai-nilai HAM akan semakin memperbesar ruang
temu antara HAM dan kebudayaan.
“Aktivitas yang
dimaksud misalnya, seni rupa yang menyuarakan tentang ketidakadilan atau tarian
yang bisa menggambarkan tentang problem sosial manusia yang mengundang
perhatian atau teater, karya sastra atau puisi yang bisa menjadi inspirasi dan
menggugah banyak orang”, ungkap Amiruddin.
Amiruddin juga mempertimbangkan
agar kerja-kerja Komnas HAM ke depan akan lebih diarahkan pada pengembangan nilai – nilai Kebudayaan
dan HAM. “Sehingga ke depan orang yang datang
ke Komnas HAM tidak hanya mengadu tentang tanahnya yang hilang atau anaknya
yang dipukuli oleh aparat keamanan, namun juga diwarnai dengan
pengembangan nilai-nilai kebudayaan atau ekspresi seni dan budaya”, pungkasnya.
(Niken/ENS)
Short link